Menyingkap Pesona Bukit Menumbing: Perpaduan Sejarah dan Keindahan Alam Bangka

 Menyingkap Pesona Bukit Menumbing: Perpaduan Sejarah dan Keindahan Alam Bangka

16 November 2024

Wonderful Exploration


        Bukit Menumbing merupakan dataran tinggi di Kabupaten Bangka Barat Provinsi Bangka Belitung yang memiliki kaitan erat dengan sejarah konflik di Indonesia. Keistimewaan lain dari Taman Hutan Raya (Tahura) Gunung Menumbing adalah bukit yang tingginya hampir 500 meter di atas permukaan laut. Dengan beragamnya sumber daya ekologi, Tahura Menumbing berfungsi sebagai kawasan konservasi alam. Tiga bangunan, salah satunya lebih besar dan memiliki tingkat lebih banyak, terletak tepat di kawasan puncak. Perusahaan timah kolonial, Banka Tin Winning Bedrijft (BTW), membangun struktur tersebut pada tahun 1927 sebagai benteng atau tempat peristirahatan. Ketika benteng ini mulai dioperasikan pada tanggal 28 Agustus 1928, Pesanggrahan Menumbing mengambil alih sebagai bangunan utamanya. 25 ruangan di bangunan utama ini diperuntukkan bagi pejabat BTW yang sedang berlibur. Menurut Indonesia.go.id, Belanda telah mengusir para pemimpin Indonesia ke pengasingan di Muntok dan mengambil alih Pesanggrahan Menumbing. Belanda merebut Yogyakarta pada tanggal 19 Desember 1948, ketika pasukannya melancarkan Agresi Militer Kedua. Mereka menahan tokoh-tokoh nasional seperti Agus Salim, Sukarno, dan Sutan Sjahrir.

        Menyusul penangkapan pada 22 Desember 1948, para tokoh tersebut diterbangkan dengan pesawat B-25 untuk diasingkan ke Berastagi. Selain itu, pada tanggal 31 Desember 1948, AG Pringgodigdo, Ass'at, Soerjadi Soerjadarma, Ali Sastroamidjojo, Mohammad Hatta, dan Mohammad Roem dideportasi ke Muntok. Sebelum dimasukkan ke dalam kastil BTW, mereka adalah kelompok pertama yang menyusup ke Muntok. Pada tanggal 6 Februari 1949, Sukarno, Agus Salim, Mohammad Roem, dan Ali Sastroamidjojo diasingkan ke Muntok oleh Belanda. Soekarno ditempatkan di kamar 12, Muhammad Roem di kamar 12-A, dan Agus Salim di kamar 11 di Pesanggrahan Menumbing. Para petinggi negara terus melakukan perjuangan melalui jalur diplomasi sepanjang masa pengasingan di Menumbing. Untuk menyusun strategi perundingan mempertahankan kemerdekaan Indonesia, mereka menyiapkan beragam tema. Kepastian Sukarno pun membuahkan hasil. Untuk menyelesaikan aspirasi kolonial atas penyerahan kedaulatan, Indonesia bertemu dengan Belanda pada tanggal 17 April 1949. Perjanjian tersebut kemudian dikenal dengan perjanjian Roem-Roijen karena disampaikan kepada dua pimpinan delegasi, Herman van Roijen dan Muhammad Roem.

SOEKARNO KEMBALI

        Pada tanggal 6 Juli 1949, Sukarno kembali ke Yogyakarta, ibu kota sementara Republik Indonesia pada saat itu, dari pengasingannya di Muntok menyusul Perjanjian Roem-Roijen. Selain itu, pemerintah sementara Republik Indonesia menerima perjanjian penting ini pada tanggal 13 Juli 1949. Pesanggrahan Menumbing diakui sebagai kawasan, situs, atau benda cagar budaya pada tahun 2010 karena signifikansinya dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Penunjukan situs warisan budaya nasional telah diberikan kepada kastil peninggalan kolonial. Lokasi ini telah disulap menjadi museum dalam beberapa tahun terakhir oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Jambi. Pesanggrahan Menumbing juga menampilkan berbagai artefak penting, termasuk buku-buku yang dibaca oleh para pemimpin nasional dan surat-surat yang ditulis oleh Soekarno dari tempat tidur, meja, kursi, dan kamar tidurnya. Selain itu, disebutkan juga mobil berwarna hitam yang diproduksi pada tahun 1938 oleh sebuah perusahaan otomotif Amerika. Mobil tersebut masih memiliki plat nomor BN 10 di bagian depan, namun warnanya menjadi sedikit kusam. Selama 17 hari di pengasingan, Bung Hatta menggunakan mobil yang dipinjamnya dari BTW sebagai kendaraan kerjanya. Kendaraan itu digunakan untuk pertemuan dengan Bung Karno di Wisma Ranggam yang berjarak sekitar 16 kilometer dari Menumbing, atau untuk beribadah di masjid.

        Pesanggrahan Menumbing telah mengalami renovasi oleh BPCB Jambi sejak tahun 2021, termasuk pembuatan galeri atau ruang pameran Cahaya Nasional. Ruang tengah gedung berisi dua patung tembaga proklamator Indonesia. Latar belakang patung menampilkan efek multimedia yang mencakup kutipan dari orang-orang yang sebelumnya dibuang ke sini. Foto-foto lama ditampilkan seolah-olah itu adalah karya seni. Tahura Menumbing menawarkan flora dan fauna yang menakjubkan serta museum. Berdasarkan penelitian yang dilakukan Fakultas Kehutanan IPB University, Tahura Menumbing merupakan rumah bagi beragam fauna, antara lain sekitar 94 jenis burung, 14 jenis amfibi, 25 jenis reptil, dan 11 jenis mamalia. Rusa, tupai terbang, babi hutan, kucing hutan, monyet ekor panjang, ular, burung puyuh, punai, elang, dan burung pelatuk adalah beberapa di antara makhluk tersebut. Selain satwa liar, kawasan ini juga dihiasi dengan beragam tumbuh-tumbuhan, seperti pohon pala raksasa berusia 150 tahun yang bibitnya didatangkan dari Maluku. Beragam tumbuhan umum dataran tinggi, antara lain pinus, pakis, anggrek hutan, dan lain-lain, juga dapat ditemukan di Bukit Menumbing.

Comments

Post a Comment

Our Best!

Pura Terbesar di Bali Yang Wajib Dikunjungi Wisatawan